Senin, 27 Agustus 2012

Peran Bunga Dalam Kehidupan Masyarakat Jepang

Bunga sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Jepang. Di negeri yang memiliki 4 musim sehingga bunga tidak dapat mekar begitu saja setiap saat bunga justru mudah ditemukan dalam kehidupan mereka. Di bulan Januari hingga bulan Maret saja terdapat dua ritual merangkai bunga yang dilakukan oleh hampir seluruh warga Jepang.



Pada saat Oshogatsu (tahun baru) masyarakat Jepang umumnya memasang kadomatsu (rangkaian bunga berupa gabungan daun cemara, aprikot yang digabungkan dengan potongan batang bambu) yang mengapit pintu rumah. Cemara melambangkan keabadian, aprikot melambangan kemuliaan dan bambu melambangkan kedinamisan.

Di Jepang, tanggal 3 Maret merupakan hari perayaan bagi anak perempuan. Pada tanggal tersebut diselenggarakan Hina Matsuri (Festival Boneka/Festival Anak Perempuan). Tentu saja selain memajang boneka hina ningyo keluarga Jepang yang memiliki anak perempuan akan memasang ikebana/rangkaian bunga berupa ranting pohon dengan bunga persik yang sedang mekar.

A. Ikebana
Kata ikebana merupakan gabungan dari kata ‘ike’ yang berari ‘hidup’ atau ‘tumbuh’ dan kata ‘hana/ bana’ yang berarti ‘bunga’. Jadi, secara etimologi ikebana berarti ‘bunga hidup’. Secara populer, ikebana diterjemahkan sebagai ‘seni merangkai bunga’.

Rangkaian bunga ikebana tidak hanya berupa susunan bunga saja. Daun, buah, rumput dan ranting juga menjadi unsur penting dalam ikebana. Bahkan plastik, kaca dan logam juga dipergunakan dalam ikebana kontemporer. Semua unsur-unsur
tersebut dirangkai sedemikian rupa dengan memperhatikan cara merangkai, ukuran, tekstur, volume, warna, jambangan, tempat dan waktu merangkai bunga tersebut sehingga dapat dihasilkan rangkaian bungayang indah dan bernilai seni tinggi.

B. Ikenobo

Asal mula dari ikebana adalah ikenobo yang beawal dari kuil Rokka Kudo di Kyoto, Jepang. Kuil ini dibangun oleh pangeran Shotoku lebih dari 500 tahun yang lalu. Ikenobo disebut sebagai ‘The origin of Ikebana‘ dan dapat dikatakan sudah berumur lebih dari 500 tahun.

Dalam perkembangan selanjutnya muncul aliran lain selain Ikenobo. Kantor pusat Ikebana Ikenobo hingga saat ini terletak di kompleks kuil Rokka Kudo. Sejarah aliran ikebana berpola pada pemikiran tradisional maupun modern, yang secara berkesinambungan saling menunjang seiring dengan perkembangan zaman.
Ikebana aliran Ikenobo meyakini bahwa setiap kuncup, bunga, tangkai atau daun yang tampil dalam sebuah rangkaian tidak saja indah dipandang tetapi juga merefleksikan filosofi rangkaian serta perasaan dan semangat si perangkai.

Kreatifitas dapat tercipta melalui tumbuhan diam dan statis yang tampil dalam BENTUK (form). Bentuk yang tercipta dari setiap tancapan rangkaian menghadirkan unsur ruang (space) atau jarak di antara setiap tancapan. Hal ini akan menciptakan kesan suatu gerakan (movement) sehingga menjadikan tanaman itu tidak lagi diam dan statis tetapi merupakan suatu kesatuan rangkaian yang mempunyai gerakan atau kehidupan. BENTUK yang tercipta itulah yang disebut IKEBANA.

Ikebana Ikenobo menjadi unik dalam penggunaan ‘ruang’ (space). Aliran ini menekankan keindahan penciptaan ruang dengan kesederhanaan yang dipadu dengan bahan berwarna serasi dan menyenangkan. Rangkaian Ikenobo juga memanfaatkan tumbuhan seperti kuncup, bunga, daun dan ranting. Sebuah kuncup bunga bisa menjadi sangat indah karena pada kuncup itu terkandung filosofi energi kehidupan baru yang senantiasa menuju perkembangan ke masa datang (future) yang melambangkan suatu harapan.
Rangkaian ini juga menekankan kekuatan alam di mana tanaman tumbuh harmonis di lingkungannya. Terkadang bentuk rangkaian mengapresiasikan keindahan bentuk dahan/ranting yang menekuk karena terpaan angin. Ada kalanya menampilkan daun-daunan yang mulai menguning karena perubahan alam, atau berlubang akibat gigitan serangga. Hal ini ternyata bisa tampak indah dan alami.

Rangkaian Ikebana Ikenobo mengekspresikan interaksi manusia dan alam dengan kesadaran akan keberadaan alam dan lingkungan. Rangkaian yang mengusung unsur alam, kehidupan dan seni ini tersebar tidak hanya di Jepang tetapi ke seluruh dunia dengan harapan bahwa keindahan rangkaian Ikebana Ikenobo dapat menjadi pengikat persahabatan antar sesama insan.

Dikutip dari : NUANSA Januari-Maret 2011. The Japan Foundation Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar